Selasa, 09 Juni 2009

kembali lagi

Duh lama juga ngak nulis lagi di blog ini. Sejak jadi penggila Facebook memang agak jarang lagi mengunjungi dan berkeluh kesah tentang semua hal disini. Kebiasaan mengupdate status sendiri atau mengomentari status kawan lain menjadi kerutinan tersendiri. Namun kerinduan itu tetap ada untuk kembali menulis isi hati yang mungkin tak bisa banyak diungkapkan dengan lisan. Ya, kadang dengan lisan kita menjadi lupa akan sesuatu hal yang telah kita keluarkan dari lidah.

Kembali lagi...., ya ini menjadi hal yang sama kualami dengan kawasan hutan lindung Sungai Lesan. sudah dua tahun lebih saya tak lagi ke lokasi ini, walaupun setiap perkembangan aku selalu mencoba mendapatkan update dari kawan-kawan yang ada disana maupun di tg redeb. Mulai dari tak aktifnya badan pengelola, bubarnya pekoka, pembangunan sarana prasarana melalui apbd 1, diskusi revisi renstra yang berakhir tak jelas serta berbagai perkembangan lainnya.


Minggu lalu aku mendapatkan kesempatan untuk kembali ke kawasan hutan lindung ini bersama dengan dua orang turis yang ingin merasakan nikmatnya trekking dan hiking di hutan hujan tropis. Akupun bersedia menjadi touris guide bagi mereka. "Sambil menyelam minum air" begitu aku umpamakan diriku.

Senin siang kami menuju kampung Muara Lesan sebagai pintu gerbang dan sekaligus tempat menunggu ketinting yang akan menghantarkan kami ke kawasan. Tak banyak yang berubah dari kampung ini, dermaganya, keramahan warganya, jalan dan sungainya pun tak berubah. Yang berubah hanya adanya plang nama kawasan hutan lindung yang dibuat oleh staff sebuah organisasi konservasi internasional (OKI).

Perjalanan pun dilanjutkan dengan menggunakan ketinting yang dinahkodai oleh pa Tono. Bapak yang sejak dulu tetap terlihat cool dan penuh wibawa. Mantan sekertaris desa ini dengan cekatan menyusuri alur sungai Kelay dan Lesan membuat kami merasakan aman diketintingnya. Betapa beruntungnya kami dalam perjalanan ini banyak kelompok Bekantan atau monyet Belanda yang dengan atraktif menarik perhatian kami dirimbunya pohon ara yang ada disepanjang tepi sungai Lesan. Sebuah pemandangan yang membuat tamuku tersenyum gembira dan “excited” sekali.

Puas menikmati pemandangan tepi sungai, kami pun tiba di stasiun riset Leja’ yang dulu menjadi tanggung jawabku dalam pembangunannya. Sempat berdesir saat kuinjakkan kaki di beranda stasiun ini. Bagaimana tidak, yang kulihat begitu tak terawatnya stasiun ini. Sampah berserakan dimana – mana dan kotor menghiasi dinding. Maklum memang karena setelah dua tahun tidak ada yang menghuni dan merawat bangunan ini dengan baik. Pekoka yang dulu aktif berjaga dan merawat bangunan ini tidak lagi ada dan anggotanya tersebar ke berbagai bidang usaha lainnya. Ada yang bekerja sebagai buruh di perkebunan sawit, menjadi pekebun karet, coklat, supir dan bekerja di perusahaan tambang. Yah, begitulah hidup mesti berlanjut dan merekapun harus tetap maju…

Potensi

Pada dasarnya kawasan ini punya potensi untuk dikembangkan menjadi model pengelolaan hutan lindung yang lebih baik. Pengelolaan yang berbasiskan pengelolaan kolaboratif bersama dengan pemerintah daerah, masyarakat dan pihak swasta. Kawasan ini memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan masyarakat sekitarnya sebagai kawasan penting bagi mereka.

Kawasan ini juga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi serta merupakan habitat orangutan sehingga kawasan ini juga berpotensi menjadi kawasan eco-wisata dan dapat menghubungkan antar wisata alam dengan wisata budaya.

Pemerintah Kabupaten Berau pun memiliki komitmen yang tinggi dalam menanamkan investasinya. Beberapa sarana wisata mulai dibangun dikawasan ini berupa trek wisata, pos pengamatan, guest house. Menara pengawas dan dapat digunakan sebagai lokasi bird watching setinggi kurang lebih 40 meter dari permukaan tanah dibangun oleh sebuah OKI.

Masalah

Namun sayangnya segala jerih payah dan investasi yang ditanamkan dalam menginisiasi kawasan ini menjadi kawasan yang memiliki nilai lebih tak berjalan dengan baik. Tercatat sejak tahun 2006 tak ada lagi upaya pengelolaan kawasan ini. Hingga berbagai permasalahan pun muncul. Pengelolaan yang terkesan tidak berlangsung dengan baik, adanya kesan kawasan ini menjadi milik sebuah OKI, berubahnya komitmen masyarakat serta adanya tekanan dari perusahaan swasta disekitar kawasan. Perlu diketahui kawasan ini telah dikepung oleh perusahaan perkebunan, HTI dan HPH.

Lalu bagaimana selanjutnya??

Solusi

Tak dipungkiri lagi bahwa semua pihak yang terlibat dalam upaya pengelolaan kawasan ini harus lebih terbuka dalam merumuskan rencana kedepan dan kepentingannya masing-masing. Kemudian perlu dilakukan re-management dan re-evaluasi terhadap semua program yang telah dilakukan termasuk didalamnya re-organisasi pengelola kawasan.

Harapannya visi dari pengelolaan kawasan ini “Terwujudnya Kelestarian Hutan Lindung Sungai Lesan sebagai Habitat Orangutan dan mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat” menjadi kenyataan.

0 komentar: