Perjalanan dari Tarakan menuju Malinau, saat ini sudah menjadi bagian dari rutinitas bulananku. Tentu saja transportasi sungai yang merupakan sarana utama menuju kabupaten yang baru terbentuk 8 tahun yang lalu ini menjadi andalan. Speedboat dengan kapasitas kurang lebih 20 orang siap mengantar sejak pukul 8 pagi hingga pukul 14 dari pelabuhan SDF di Tarakan.
Waktu tempuh yang mencapai 3 jam kadang membuat bosan juga, sehingga harus dicari kegiatan yang dapat membunuh rasa bosan ini. Membaca merupakan cara jitu membunuhnya selain mengobrol dengan penumpang lain (itu jika si penumpang tidak tidur). Ya, tidur juga car jitu lho.
Tapi ada hal lain yang menarik perhatianku. Di speed ini tidak disediakan tempat sampah yang baik. Sehingga penumpang yang membawa makanan kecil, minuman (kaleng, botol, dll) membuang sampahnya dengan tenang ke sungai diluar. Sayang memang hal ini dilakukan karena kan sungai memang bukan tempat sampah yang seenaknya bisa menampung sampah manusia.
Beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan adalah si pemilik Speedboat menyediakan tempat sampah yang layak agar dapat menampung sampah penumpang. Bila tetap tidak ada, maka ada baikknya sampah yang dihasilkan disimpan terlebih dahulu pada plastik dan dibuang jika menemukan tempat sampah setelah tiba di tujuan.
Jika ini dilakukan oleh setiap orang, saya yakin tak akan lagi kita lihat sungai yang kotor dengan sampah.
Ingat: Sungai bukan tempat sampah !!!
1 komentar:
Iya wal, ingat Sungai Karang Mumus lah? Hibak wan sampah wayah ini, akibat kebiasaan membuang sampah semaunya.
ps. laplame de forestry
Poskan Komentar