Jumat, 19 September 2008

Anak Betawi diburu Intel Yahudi

Novel karangan Ridwan Saidi ini sangat lugas dan jenaka dalam memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat Betawi mulai dari jaman kemerdekaan (tahun 1940-an) hingga beberapa waktu kemudian (tahun 1970-an).

Kehidupan agamis dari keluarga Mat Sani yang hidup dimasa kemerdekaan dan suasana politik bangsa Indonesia saat itu yang banyak muncul partai-partai baru mulai dari partai Islam, partai Komunis dan partai-partai lainnya. Friksi-friksi pun muncul di dalam kehidupan sehari-hari terutama dari partai Islam dengan Komunis. Berbagai isu berkembang bahkan berdampak pada wafatnya Mat Sani ditangan antek-antek Komunis dalam satu pertikaian.

Cerita berlanjut pada kehidupan Abdul Gafur "Doel" yang merupakan cucu Mat Sani dari putrinya Jenab. Doel kecil tumbuh dalam kehidupan keluarga Betawi yang kental dengan nuansa Islamnya. Ayah dan Ibunya sangat mengharapkan Doel dapat menjadi pemuda Islam yang kuat serta berpendidikan tinggi agar dapat berjuang mengangkat harkat masyarakat Betawi dan juga Islam secara umum.

Doel memang tumbuh menjadi pemuda yang berjiwa pemimpin. Remanis menjadi salah satu kegiatan berorganisasinya yang pertama. Dia juga membentuk Debate Club sebagai sarana untuk mempertajam kemampuan bahasa Inggrisnya. Tapi melalui bimbingan sang Ibu, Doel juga terlatih dengan bahasa Arab.

Suatu ketika nenek Doel mendapati selendang hijaunya sudah robek. Bingung siapa yang melakukan hal ini membuat sang nenek menangis tersedu. Doel pun pulang dengan kain tutup kepala warna hijau yang didepannya bertuliskan "Allah hu Akbar". Ternyata Doel lah penyebab rusaknya selendang nenek. Doel mengikuti demonstrasi menentang didudukinya Al-Aqsa oleh bangsa Yahudi juga demi membela Saudara Islam di Palestina. Sang nenek pun luluh hatinya untuk memaklumi apa yang dilakukan oleh Doel.

Dalam kesibukannya, Doel bertemu dengan Ratih, Tursina atau Uri dan Anneke. Ratih merupakan temen di sekolahnya, Uri adalah teman di Remanis sedangkan Anneke adalah gadis Belanda yang merupakan teman Ratih.

Dari Anneke inilah Doel mendapatkan hadiah yang akan merubah hidupnya. Hadiah kecil yang mungkin tak begitu berharga ternyata merupakan alat untuk menyimpan rahasia paling top dari Mossad (agensi intelejen Yahudi).

Petualangan Doel pun berlanjut hingga ke kawasan Timur Tengah dimana dia terus diburu oleh intel Yahudi lantaran mendapatkan dokumen top secret rahasia Israel, dan membuat para pejuang Palestina berusaha membebaskannya dari tahanan Mossad.

Dengan ramuan pengetahuan historis serta gaya narasi sastra yang khas dan kaya humor akhirnya membuat novel Ridwan Saidi ini bukan saja mampu menghadirkan dunia Betawi dengan segala kekhasannya dan nafas Islam yang kental dalam tradisinya, lebih jauh lagi adalah perkaitannya dengan Indonesia dan akhirnya dunia internasional, wabil khusus dalam konteks persaudaraan dan perjuangan Islam sedunia.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

saya sudah baca novel ini dan ini benar2 novel yg bagus untuk dinikmati
walaupun bukan penyuka novel, tapi ketika membaca awal ny saja sudah tertarik untuk membaca lebih lanjut
salut untuk Bang Ridwan bisa membuat novel sebagus ini
sangat direkomendasikan terutama bagi yang tertarik pada sejarah kehidupan masyarakat Betawi